image
31 Desember 2017 | Sehat

Resolusi Sehat 2018

Esok hari kita sudah memasuki 2018. Tanpa terasa setahun telah berlalu. Banyak resolusi yang ingin dicapai di tahun yang baru. Dari sekian banyak daftar, yang berkaitan dengan kesehatan tentu tak boleh luput dari perhatian. Apa saja resolusi sehat 2018 yang bisa Anda terapkan?

Menurut WHO, sehat itu harus meliputi jasmani, mental, dan spiritual. ”Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity (sehat adalah kondisi fisik, mental, dan kesejahteraan sosial yang baik, tidak sekadar bebas dari penyakit atau kondisi lemah)”.

Dr Puspita Wijayanti mengatakan, banyak di antara kita yang sudah menerapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan organik, rendah lemak, dan olahraga teratur, namun lupa menjaga kesehatan mental dan spiritual.

Menurut data WHO, tahun 2017 didapati kurang lebih 800.000 orang meninggal dunia akibat bunuh diri, yang dipicu depresi. ”Jadi, resolusi sehat 2018 harus meliputi sehat jasmani, mental, dan spiritual,” ujarnya. Pertama, menjaga pola dan asupan makan. Obesitas dan penyakit metabolik berhubungan erat dengan pola makan kita.

Hindari makanan yang mengandung banyak gula, tinggi lemak, dan kalori. Kedua, olahraga terukur dan teratur. Anda tentu sudah tahu, olahraga yang dilakukan secara rutin dan terukur lebih baik daripada sekali dua kali olahraga tapi langsung berat. ”Saya merekomendasikan dua jenis olahraga yang bermanfaat besar dan mudah dilakukan, yakni berenang dan berjalan.

Sebuah studi mengatakan, dua jenis olahraga ini tidak hanya bermanfaat bagi kebugaran tubuh, tapi juga bisa melawan depresi, mengurangi stres, dan menaikkan suasana hati,” jelas Puspita. Ketiga, tidur berkualitas. Pola tidur yang teratur membuat metaboliSme tubuh lebih baik. Hindari jadwal tidur yang berubah-ubah, kurang tidur di malam hari, dan bermain gawai (gadget) menjelang tidur.

Keempat, piknik atau berlibur. Bersenang-senang sejenak di sela kesibukan bekerja, sangat dianjurkan untuk menghilangkan stres dan kepenatan. Yang tentunya, bisa memberi manfaat baik bagi tubuh. Kelima, belajar. Apa hubungannya dengan kesehatan? Belajar bisa dilakukan lewat cara yang menyenangkan, seperti mengisi TTS (Teka-teki Silang) atau bermain Scrable.

Hal tersebut dapat meningkatkan kemampuan otak dan mengurangi risiko alzhaimer. Keenam, berhenti merokok dan kurangi kebiasaan minum minuman beralkohol. Tak perlu penjelasan panjang, Anda tentu sudah paham risiko buruknya, bukan? Ketujuh, berhubungan baik dengan keluarga, teman, dan kerabat.

”Beberapa penelitian mengatakan, orang-orang yang memiliki ikatan sosial tinggi, memiliki usia harapan hidup yang lebih lama,” ujar Puspita. Terakhir, bersyukur dan mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa. Spiritual akan menunjang fisik dan mental dan hidup pun terasa lebih damai.

Disiplin Segala Hal

Adapun beberapa resolusi sehat versi Imam Santosa, seorang atlet lari asal Semarang, yakni memilih makanan yang lebih baik, mengubah persepsi antara ”kenyang dan tidak kenyang”, dan berolahraga lebih banyak.

Memilih makanan yang lebih baik (making a better choice), akan membuat kita lebih disiplin terhadap makanan yang kita masukkan ke dalam tubuh. Misalnya memilih makanan-makanan yang rendah gula; daripada meminum es teh manis, pilih es teh tawar, daripada ngemil chips, pilih buah-buahan yang mengenyangkan atau segar, seperti pisang, salak, atau jeruk.

”Bisa juga dengan memperbanyak sayuran hijau, atau masak sendiri bila di rumah, karena dari bahanbahan yang kita pilih, kita bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan,” papar pria yang baru saja menyelesaikan lari sejauh 129 km dalam ajang NusantaRun tersebut.

Kedua, ubah persepsi soal ”kenyang” dan ”tidak kenyang”. Dengan volume makanan yang berbeda tapi jumlah kalori yang masuk sama, maka pilihlah yang lebih menyehatkan. Misalnya untuk seporsi makanan yang sama-sama memiliki 1.500 kalori.

Makanan A terdiri atas sayuran dan buah-buahan dengan volume besar. Makanan B terdiri atas nasi dan ayam goreng dengan volume kecil atau sedang. Kita cenderung berasumsi menu Atidak mengenyangkan meskipun porsinya lebih besar. Padahal secara volume, menu A mengenyangkan, sedangkan menu B tidak begitu kenyang.

”Nah, saya lebih memilih volumenya banyak tapi lebih sehat, daripada yang terlihat enak tapi volumenya kecil,” ungkap Imam. Ketiga, melakukan olahraga lebih banyak, bukan dari intensitasnya, melainkan jenisnya. Menurut Imam, ini efektif untuk menggerakkan semua otot tubuh secara merata; memaksimalkan dan melatih otot-otot seluruh tubuh.

Misalnya seseorang yang sering mengalami nyeri atau kram paha, bisa jadi ia sering mengalami hal tersebut bukan karena tidak melakukan pemanasan dan pendinginan setiap berolahraga, tapi karena yang terus dilatih hanya otot-otot kaki, sementara otot bagian tubuh lainnya tidak.

Jadi, jangan fokus pada satu latihan. Bila Anda rutin melakukan olahraga lari atau sepeda, imbangi dengan jenis olahraga lainnya seperti renang, yoga atau core training.(Irma Mutiara Manggia-58)