image

SM/Puji Purwanto - MENERIMA HADIAH :Para pemenang menerima hadiah seusai mengikuti audisi dai di Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto, belum lama ini.(23)

27 Desember 2017 | Hello Kampus

Terjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Banyumasan

INSTITUTAgama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto menjadi salah satu perguruan tinggi yang terlibat dalam pelestarian budaya lokal pada program penerjemahan Alquran dalam Bahasa Banyumasan. Program ini bekerja sama dengan Puslitbang Lektur dan Khasanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. Terjemahan Alquran dalam Bahasa Banyumasan juga telah diluncurkan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada 3 Desember 2015 di Jakarta.

Tim penerjemah Bahasa Banyumasan, di antaranya KH Ahmad Tohari, Dr H ALuthfi Hamidi, M.Ag, KH Drs Khariri Shofa, M.Ag, KH Thoha al- Hafidz, Dr Suprianto, Lc.,M.S.I, Dr H Safwan Mabrur, Drs Attabik, M.Ag, Nurma Ali Ridwan, M.Ag, Muhyiddin Dawud, Lc., M.Pd.I dan Ahmad Muttaqin, M.Si. Menurut Rektor IAIN Purwokerto Dr HALuthfi Hamidi, M Ag, Bahasa Banyumasan merupakan salah satu entitas Jawa yang memiliki spesifikasi bahasa yang berbeda dan sudah berdiaspora. Hal ini menjadi salah satu alasan yang melatarbelakangi menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Banyumasan.

“Kedua, kenapa menerjemahkan Alquran dalam Bahasa Banyumas, menurut Mas Tohari (KH Ahmad Tohari, salah satu penerjemah), Bahasa Banyumas itu berbeda dari Bahasa Jawa lain,” katanya saat ditemui di kantornya, pekan lalu.

Dikatakan, Bahasa Banyumas yang original tidak mengenal strata dan anggah ungguh, sedangkan Bahasa Jawa yang lain ada ngaka, krama, dan krama inggil. Adapun tujuannya, memberikan pelayanan keagamaan umat dan bisa masuk dalam lingkungan budaya masyarakat Banyumas.

Namun demikian, dalam menyusun terjemahan bahasa Banyumasan terdapat perdebatan di antara tim, terutama dalam menerjemahkan dialog antara Tuhan dengan manusia disepakati menggunakan bahasa krama. “Setelah melewati diskusi dan perdebatan, akhirnya ada kompromi, terkait dengan Allah, Rasul dan para Alim yang disebut dalam kitab suci menggunakan krama. Selain itu murni menggunakan bahasa Banyumasanan,” katanya menjelaskan.

Dicetak Terbatas

Saat ini, Alquran terjemahan bahasa Banyumasanan telah dicetak oleh Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, bahkan IAIN Purwokerto juga mencetak sendiri namun jumlahnya terbatas. “Karena keterbatasan anggaran, kita baru bisa mendistribusikan hanya untuk kalangan tertentu dan belum dijual bebas.

Kemungkinan kita akan bekerja sama dengan lembaga donor untuk melakukan pencetakan itu lebih besar, sehingga dapat diakses secara luas oleh masyarakat Banyumas,” katanya. Namun demikian, pihaknya gencar mengenalkan dan memopulerkan Alquran bahasa Banyumasanan kepada masyarakat. Ini bagian dari upaya untuk melestarikan budaya lokal. Diharapkan, nantinya selama kitab suci masih dibuka oleh masyarakat, maka selama itu pula budaya Banyumas tetap eksis.

Sementara itu, Puslitbang Lektur dan Khazanah Kementerian Agama hingga 2015, telah menerjemahkan Alquran ke dalam sembilan bahasa daerah yang bekerja sama dengan perguruan tinggi.

Kesembilan bahasa daerah itu meliputi terjemah Alquran Bahasa Makasar, Sulawesi Selatan (bekerja sama dengan UIN Alauddin, Makasar), Bahasa Kaili, Sulawesi Tengah (bekerja sama dengan IAIN Palu), Bahasa Sasak, Nusa Tenggara Barat (bekerja sama dengan IAIN Mataram), Bahasa Minang Sumatera Barat (bekerja sama dengan IAIN Imam Bonjol, Padang), Bahasa Dayak Kanayatn, Kalimantan Barat (bekerja sama dengan IAIN Pontianak), bahasa Banyumasanan, Jawa Tengah (bekerja sama dengan IAIN Purwokerto).

Bahasa Toraja, Sulawesi Selatan (bekerja sama dengan STAIN Palopo dan IUN Makassar), Bahasa Balaang Mangondow, Sulawesi Selatan (bekerja sama dengan IAIN Manado), Bahasa Batak, Sumatera Utara (bekerja sama dengan IAIN Sumatera Utara).(23)

Penulis dan foto :Puji Purwanto
Penyunting :Dwi Ani Retnowulan