image

Foto: suaramerdeka.com/ Puthut Ami Luhur

14 Desember 2017 | 14:40 WIB | Medis

Balita Penderita Difteri Meninggal Dunia

SEMARANG, suaramerdeka.com -Seorang pasien difteri berusia empat tahun asal Kendal, Jawa Tengah meninggal dunia karena tidak dapat tertolong meski telah ditangani tim dokter anak Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Kariadi Semarang.

Dokter Spesialis Anak RSUP Dr Kariadi Semarang dr Hapsari SpA(K) menyatakan, pasien sudah dalam kondisi difteri berat karena terdapat komplikasi saat diterima dan ditangani tim dokter.

"Pasien itu berjenis laki-laki dibawa ke RSUP dr Kariadi pada Selasa (12/12) malam dan langsung ditangani di Ruang Isolasi IGD. Pasien tersebut selain komplikasi pada jantung juga mengalami sesak nafas karena membran sudah menutupi saluran nafas dan pembesaran kelenjar," kata Hapsari di RSUP Kariadi, kemarin.

Berbagai langkah penanganan sudah dilakukan, termasuk memberikan antidifteri serum (ADS) dan merencanakan trakeostomi karena selaput membran di tenggorokan sudah menutup saluran pernafasan.

"Hanya beberapa jam dirawat pasien tersebut meninggal dunia tadi (Rabu, 13/12) pagi pukul 02.00 WIB. Namun, kami tidak bisa menyalahkan pihak keluarga karena ada kemungkinan soal ketidaktahuan mengenai gejala difteri," tambahnya.

Dari keterangan yang diperoleh Hapsari mengatakan, belita tersebut sudah 5-6 hari mengalami demam yang tidak tinggi, nyeri telan dan mendengkur ketika bernafas. Jika dibawa lebih awal ke layanan kesehatan, seperti puskesmas atau RSUD setempat lebih awal, nyawanya mungkin masih dapat tertolong.

Hapsari menyebutkan masih ada dua pasien difteri yang dirawat di Ruang Isolasi RSUP Kariadi Semarang, yakni satu pasien dari Batang dan satu pasien dari Demak.

"Dua hari lalu, ada rujukan dua pasien. Pertama dari RSI Kendal tetapi domisili di Kabupaten Batang, perempuan berusia enam tahun dua bulan, kemudian laki-laki berusia 15 tahun rujukan dari Demak," tuturnya.

Dua pasien tersebut masih tergolong difteri tahap ringan sehingga bisa tertolong dengan prosedur penanganan di ruang isolasi dan sekarang ini menjalani perawatan di Ruang Isolasi Bangsal Anak RSUP Dr Kariadi Semarang.

"Keduanya sudah difteri. Pasien perempuan difterinya ada di tonsil, amandel, sementara yang laki-laki di faring, tenggorokan. Tergolong difteri ringan,” tambahnya.

Keduanya diberi antibiotik selama 10 hari. Pencarian kuman difteri dilakukan dua kali, baru boleh keluar dari ruang isolasi. Untuk pasien laki-laki asal Demak masih ada vaksinasi yang terlewat.

(Puthut Ami Luhur /SMNetwork /CN33 )