image

Foto: suaramerdeka.com / dok

15 April 2018 | 14:00 WIB | Sastra

Ketika Gank Penikmat Gemblong Sajikan Novel Berseri

SEMARANG, suaramerdeka.com— Penerbit Gramedia Utama didukung Himpunan Penulis Indonesia (Himpena), meluncurkan empat novel Gemblongers Series, minggu (15/4), di Gramedia Balaikota, Semarang. Keempat novel tersebut adalah Ninuk: Angkringan, Jangkrik dan Cinta yang Bergentayangan, karya Retni SB, Diajeng: Camilan, Gembolan dan Cinta yang Belingsatan, karya Netty Virgiantini, Alin: Montir, Berondong dan Teori Kualat, karya Sophie Maya, dan Mara: Diktator, Eksim dan Cinta yang Nayal-nayal, karya Wiwien Wintarto.

Empat novel Gemblongers Series terkait satu sama lain. Kaitan itu terjadi karena para tokoh utamanya bersepupu. Ninuk, Diajeng, Mara, dan Alin sama-sama cucu Mbah Atmosukarto. Akibat hobi makan gemblong yang nggak selesai-selesai, mereka kemudian membentuk sebuah gank bernama Gemblongers. Gemblongers adalah oase bagi empat sepupu ini, ketika mereka jenuh dengan dunianya masing-masing.

Ide awal penulisan Gemblongers Series datang dari Netty, yang berinisiatif untuk membuat novel seri. Ia lalu menghubungi Wiwien untuk merealisasikan gagasan tersebut. Wiwien yang menyambut baik rencana, kemudian menghubungi Retni dan Sophie untuk ikut terlibat di dalamnya. Dengan latar belakang keempat penulis yang berasal dari Jawa Tengah, jadilah penulisan Gemblongers Series dibuat dengan latar belakang kota Semarang nan kental.

“Meski pun saya yang memiliki gagasan awal proyek novel seri ini, tapi Wiwien yang mengeksekusi semuanya dari awal sampai akhir. Mulai dari membuat silsilah keluarga Atmosukarto, bikin grup di WhatsApp, penyatuan dan penyesuaian keempat naskah berdasar adegan-adegan crossover, dengan urutan tanggal dan hari. Sinkronisasi naskah yang mungkin nggak sanggup saya lakukan sendiri,” ujar Netty.

Ada kesamaan pesan yang hendak disampaikan keempat penulis melalui Gemblongers Series. Walau pun masing-masing tokoh utama memiliki karakter yang berbeda. Mara yang terlihat judes, tapi lucu, Diajeng yang kocak, Ninuk yang nyentrik, dan Alin yang tomboi tetapi mereka merepresentasikan sosok perempuan-perempuan kuat dan  mampu bertahan menghadapi masalah-masalah yang mampir di hidupnya, berkat dukungan dari orang-orang terdekat. 

(Nugroho Wahyu Utomo /SMNetwork /CN40 )